
tech
40% Perusahaan di Indonesia Ragu Pakai Agen AI karena Takut Kebocoran Data
Riset Cisco menunjukkan 40% perusahaan di Indonesia ragu mengadopsi agen AI untuk keamanan siber karena takut data bocor.
Key points
- Riset Cisco Relentless Defense Report menyebut 40% organisasi di Indonesia belum mengadopsi agen AI secara ekstensif untuk keamanan siber.
- Keengganan dipicu kekhawatiran kebocoran data, sistem AI disusupi peretas, dan ketidakpastian tata kelola data vendor pihak ketiga.
- Lebih dari 80% organisasi di Indonesia yakin mampu mendeteksi dan merespons agen AI yang disusupi pihak tidak berwenang.
Why it matters. Keraguan adopsi agen AI dapat membuat organisasi di Indonesia kesulitan mengendalikan serangan siber berbasis agen otonom yang bertindak dalam hitungan detik.
Riset Cisco bertajuk Relentless Defense Report mengungkap bahwa 40% organisasi di Indonesia belum mengadopsi agen AI secara ekstensif untuk operasional keamanan siber mereka. Keengganan ini dipicu kekhawatiran terhadap kebocoran data, sistem AI yang disusupi peretas, dan ketidakpastian tata kelola data oleh vendor pihak ketiga. Meski demikian, lebih dari 80% organisasi di Indonesia merasa yakin mampu mendeteksi dan merespons agen AI yang disusupi pihak tidak berwenang.
Latest updates
40% Perusahaan di Indonesia Ragu Pakai Agen AI karena Takut Kebocoran Data
Riset terbaru Cisco bertajuk Relentless Defense Report mengungkap bahwa 40% organisasi di Indonesia belum yakin untuk memanfaatkan agen AI dalam membentengi sistem keamanan siber mereka. Keraguan utama muncul dari kekhawatiran akan kebocoran data, meskipun serangan siber berbasis agen otonom kini dapat terjadi hanya dalam hitungan detik. Di sisi lain, sebanyak 29% organisasi di Indonesia tergolong memiliki pertahanan siber yang tangguh. Temuan ini menunjukkan kesenjangan antara urgensi ancaman siber dan kesiapan adopsi teknologi AI di kalangan perusahaan Indonesia.