
tech
Dosen UGM Wanti Bahaya AI untuk Anak SD: Risiko Halusinasi dan Informasi Keliru
Dosen UGM Dedy Permadi mengingatkan risiko pengenalan AI langsung ke siswa SD di Jakarta karena anak belum mampu memverifikasi halusinasi
Key points
- Dosen UGM Dedy Permadi mengingatkan risiko pengenalan AI langsung ke siswa SD di Jakarta.
- Ia menyatakan rencana pemerintah memasukkan AI ke kurikulum 2024 perlu ditinjau ulang.
- Dedy membandingkan dengan Jepang yang baru memperkenalkan AI ke SMA dengan panduan guru.
Why it matters. Pembahasan ini penting bagi orang tua dan pendidik untuk memahami risiko halusinasi AI serta pentingnya pendampingan manusia sebelum teknologi diterapkan di pendidikan dasar.
Dosen UGM Dedy Permadi mengingatkan risiko pengenalan AI langsung ke siswa SD di Jakarta karena anak belum mampu memverifikasi halusinasi informasi. Ia menyatakan rencana pemerintah memasukkan AI ke kurikulum 2024 perlu ditinjau ulang sebelum diterapkan tanpa pendampingan. Dedy membandingkan dengan Jepang yang baru memperkenalkan AI ke SMA dengan panduan guru dan akses terbatas. Ia menekankan prinsip AI berpusat pada manusia agar teknologi tidak mengambil keputusan mandiri tanpa pengawasan.
Latest updates
Dosen UGM Wanti Bahaya AI untuk Anak SD: Risiko Halusinasi dan Informasi Keliru
Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Dedy Permadi, mengingatkan masyarakat tentang risiko pengenalan kecerdasan buatan (AI) secara langsung kepada siswa sekolah dasar (SD). Menurut dia, teknologi AI berbasis large language model (LLM) dapat menghasilkan halusinasi atau informasi keliru yang berbahaya bagi perkembangan kognitif anak-anak. Dedy Permadi menekankan perlunya pendampingan orang tua dan literasi digital yang memadai untuk mencegah dampak negatif dari penggunaan teknologi tersebut. Ia menyarankan agar penggunaan AI di lingkungan pendidikan dasar dilakukan dengan pengawasan ketat dan kurikulum yang tepat.