
tech
Komdigi Nilai Mahalnya Biaya Internet Hambat Pengembangan AI di Indonesia
Wamenkomdigi Nezar Patria menyebut biaya internet mahal dan penetrasi fixed broadband rendah menghambat AI
Key points
- Tarif rata-rata fixed broadband di Indonesia mencapai Rp300 ribu per bulan, lebih mahal dibanding India.
- Penggunaan fixed broadband untuk rumah tangga baru berada di kisaran 22 persen, sedangkan cakupan 4G hampir 99 persen wilayah permukiman.
- Pemerintah menargetkan kecepatan internet 100 Mbps dengan biaya lebih terjangkau serta mendorong pembangunan jaringan 5G.
Why it matters. Menurut pemerintah, kendala biaya dan jaringan telekomunikasi dapat memperlambat adopsi AI, padahal potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD 366 miliar pada 2030.
Wamenkomdigi Nezar Patria menyebut tingginya tarif internet dan minimnya fixed broadband sebagai kendala, saat acara Lintas Teknologi Solutions Day 2026 di Jakarta Timur, Sabtu (31/10). Penetrasi internet nasional mendekati 81 persen, tetapi penggunaan fixed broadband rumah tangga baru 22 persen dengan tarif rata-rata Rp300 ribu per bulan. Angka itu lebih mahal dari India yang berkisar USD 5 hingga USD 10, sehingga pemerintah menargetkan 100 Mbps dengan biaya lebih murah.
Latest updates
Komdigi Nilai Mahalnya Biaya Internet Hambat Pengembangan AI di Indonesia
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai mahalnya biaya internet dan rendahnya penetrasi fixed broadband masih menjadi hambatan utama. Hambatan tersebut dinilai menghambat penguatan ekosistem kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan pandangan tersebut. Menurutnya, pengembangan AI membutuhkan infrastruktur jaringan yang terjangkau dan merata. Pernyataan ini disampaikan di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat adopsi teknologi AI nasional. Pemerintah belum mengumumkan rencana kebijakan spesifik terkait penurunan biaya internet dalam pernyataan tersebut.