
tech
Indonesia Tak Perlu Bikin AI Tercanggih Dunia, Wamenkomdigi Nezar Patria Ungkap Strateginya
Wamenkomdigi Nezar Patria menyebut Indonesia tidak perlu mengejar model AI paling maju dunia dan memilih memanfaatkan AI yang sudah
Key points
- Indonesia tidak akan membangun model AI paling canggih di dunia dalam dekade ini, dan kemungkinan besar juga tidak pada dekade berikutnya.
- Nezar menyebut Indonesia memiliki mineral kritis dan pasar domestik dengan jumlah penduduk hampir 290 juta jiwa.
- Indonesia perlu memperkuat daya tawar lewat infrastruktur komputasi dalam negeri, kebijakan akses pasar, dan kemitraan dengan negara lain.
Why it matters. Ketergantungan pada penyedia AI asing dapat menjadi persoalan jika harga dinaikkan atau akses infrastruktur dibatasi, sehingga Indonesia perlu memperkuat daya tawarnya.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut Indonesia kemungkinan besar tidak akan membangun model AI terdepan dalam dekade ini, saat berbicara dalam pelatihan AI Value Chain secara daring dari Jakarta Pusat. Pengembangan model AI paling maju masih dikuasai Amerika Serikat dan Tiongkok, yang memiliki modal, tenaga ahli, cip, dan pasokan energi besar. Nezar mengingatkan ketergantungan pada penyedia AI asing bisa bermasalah jika harga dinaikkan atau akses infrastruktur dibatasi.
Latest updates
Indonesia Tak Perlu Bikin AI Tercanggih Dunia, Wamenkomdigi Nezar Patria Ungkap Strateginya
Wamenkomdigi Nezar Patria menekankan pentingnya memanfaatkan AI untuk meningkatkan pelayanan publik dan ekonomi. Ilustrasi teknologi AI. (Pinterest) JawaPos.com - Indonesia dinilai tidak perlu bersaing menjadi negara dengan pengembang model kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) paling maju di dunia untuk bisa mengambil peran dalam industri teknologi global. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, peluang Indonesia justru terbuka melalui kemampuan mengoptimalkan teknologi AI. Yaitu dengan memperbaiki pelayanan pemerintah, mendorong produktivitas ekonomi, serta memenuhi kebutuhan masyarakat. Nezar menjelaskan, pengembangan model AI tercanggih masih dikuasai Amerika Serikat dan Tiongkok. Kedua negara tersebut memiliki dukungan modal, tenaga ahli, cip, serta pasokan energi dalam skala besar yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi tersebut. Melihat kondisi itu, Indonesia perlu menyusun pendekatan yang sesuai dengan kemampuan dan potensi nasional, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi AI yang sudah tersedia. Baca Juga: Startup Teknologi Indonesia Bidik Pasar Enterprise Lewat Infrastruktur Inferensi AI "Indonesia tidak akan membangun model AI paling canggih di dunia, tidak dalam dekade ini, dan kemungkinan besar tidak juga pada dekade berikutnya," ujarnya dalam acara Pelatihan AI Value Chain: Indonesia's Strategy in the AI.