
business
Membangun kedaulatan kecerdasan untuk produktivitas ekonomi di era AI
Sophia Training and Consulting, i3L University, dan EduMark membangun kedaulatan kecerdasan melalui integrasi materi AI di pendidikan
Key points
- Sophia Training and Consulting, i3L University, dan EduMark bekerja sama mengintegrasikan materi AI ke pendidikan tinggi sejak 19 Oktober
- Pendidikan AI bertujuan agar mahasiswa memahami cara kerja teknologi, verifikasi hasil, dan etika penggunaan untuk menghindari risiko
- Manfaat ekonomi AI muncul jika teknologi terintegrasi dengan proses bisnis dan dioperasikan oleh pekerja yang memahami tujuan serta
Why it matters. Kemitraan ini berupaya mengatasi kesenjangan antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan industri guna meningkatkan produktivitas ekonomi melalui penguasaan kompetensi AI.
Sophia Training and Consulting, i3L University, dan EduMark menandatangani nota kesepahaman pada 19 Oktober 2026 di Jakarta. Ketiga institusi ini sepakat mengintegrasikan materi pembelajaran AI ke pendidikan tinggi serta memperluas pelatihan bagi mahasiswa dan profesional. Sophia merupakan konsultan asal Inggris, sementara EduMark adalah konsultan pendidikan Jakarta. Kerja sama ini bertujuan menjawab kesenjangan kompetensi digital agar teknologi terintegrasi dengan proses bisnis.
Latest updates
Membangun kedaulatan kecerdasan untuk produktivitas ekonomi di era AI
Kecerdasan buatan (AI) sedang mengubah peta persaingan ekonomi global. Kemampuan suatu negara memanfaatkan teknologi ... Jakarta (ANTARA) - Kecerdasan buatan (AI) sedang mengubah peta persaingan ekonomi global. Kemampuan suatu negara memanfaatkan teknologi ini tidak lagi sekadar menentukan efisiensi pekerjaan, tetapi juga memengaruhi produktivitas industri, kualitas sumber daya manusia, dan daya saing ekonomi. Bagi Indonesia, tantangan terbesarnya bukan hanya mempercepat adopsi AI, melainkan memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk menguasai dan menciptakan nilai dari teknologi tersebut. Perubahan ini menghadirkan persoalan mendasar dalam sistem pendidikan nasional. Ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada penyesuaian kurikulum, kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri berpotensi semakin melebar. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan tenaga kerja terdidik, tetapi juga manusia yang mampu beradaptasi, berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan melalui pendekatan teknologi. Fenomena penggunaan AI di kalangan mahasiswa memperlihatkan tantangan tersebut. Berbagai aplikasi telah dimanfaatkan untuk menyusun tugas, mencari referensi, menganalisis informasi, hingga membuat presentasi. Hanya saja, kemudahan penggunaan belum tentu mencerminkan penguasaan teknologi. Tanpa pemahaman mengenai validitas data, keterbatasan algoritma, dan etika p.