Skip to footer
Denny Malik on Coaching Clinic Organizing CoE, Ministry of Tourism and Creative Economy of Indonesia (2019).jpg
Photo: Public domain, via Wikimedia Commons

business

Pasar Game RI Besar Tapi Pendapatan Developer Lokal Belum Optimal

Developer game lokal perlu mengubah model bisnis karena pendapatan belum optimal meski pasar game Indonesia besar.

Updated 2 min read

Key points

  • Kontribusi publisher dan developer game Indonesia lebih kecil dari Singapura menurut laporan Access Partnership.
  • Luhut Sihombing menyebut perilaku belanja gamer Indonesia lebih menyukai game free-to-play dibandingkan game premium.
  • Developer game Indonesia disarankan mengubah model bisnis untuk menyesuaikan dengan kebiasaan pasar domestik.

Why it matters. Perubahan model bisnis developer lokal diperlukan agar dapat mengoptimalkan pendapatan dari pasar game Indonesia yang memiliki volume besar.

Laporan Access Partnership menunjukkan kontribusi publisher dan developer game Indonesia lebih kecil dibandingkan Singapura meskipun pasar game Indonesia lebih besar. Direktur Game Kementerian Ekonomi Kreatif, Luhut Sihombing, menyatakan tantangannya terletak pada perilaku belanja gamer lokal yang lebih menyukai model free-to-play daripada game premium. Luhut berpendapat developer lokal perlu mengubah model bisnis agar sesuai dengan pasar Indonesia.

Latest updates

Pasar Game RI Besar Tapi Pendapatan Developer Lokal Belum Optimal

Menurut sebuah laporan yang dibeberkan oleh Access Partnership, kontribusi publisher dan developer game di Indonesia lebih kecil dari Singapura. Jakarta - Menurut sebuah laporan yang dibeberkan oleh Access Partnership, kontribusi publisher dan developer game di Indonesia lebih kecil dari Singapura. Padahal pasar game di sini lebih besar dibandingkan negara tetangga tersebut. Direktur Game, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Luhat Sihombing, menyampaikan bahwa sebenarnya tantangan yang dihadapi oleh developer lokal, yakni menangani kebiasaan gamer di Tanah Air. Jadi bukan mengacu pada kualitas game itu sendiri. "Bukan soal di kualitas kalau saya bilang, tapi di behavior spending. Jadi perilaku spendingnya, kan banyak di Indonesia yang melakukan mobile game yang sebenarnya free-to-play. Dari free-to-play baru mereka purchasing setiap transaksi. Sementara game yang dikeluarkan developer kita adalah premium game yang mana dibayar di depannya," jelas Luhut kepada detikINET, di Grand Indonesia, Kamis (22/10/2026). SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Menurutnya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan uang dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, tetapi dilakukan secara konsisten. Jadi Luhut berpendapat, kebiasaan gamer ini lah yang belum cocok dengan apa yang ditawarkan developer game di Indonesia. "Jadi mau nggak mau, developer Indonesia kalau mau .

Sources