
business
Pemerintah Arahkan Hilirisasi Nikel ke Produksi Baterai Kendaraan Listrik
Pemerintah mengarahkan hilirisasi nikel ke produksi baterai kendaraan listrik sebagai produk akhir industri nasional.
Key points
- Pemerintah ingin investasi hilirisasi nikel bergerak sampai menghasilkan produk akhir, termasuk baterai kendaraan listrik.
- Sebanyak 50% hingga 60% kapasitas smelter nikel yang ada masih sebatas menghasilkan produk perantara.
- Ekspor nikel beserta produk turunannya naik dari US$ 3,3 miliar pada 2017 menjadi US$ 33,9 miliar pada 2024.
Why it matters. Arah kebijakan baru ini dapat memperbesar nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja dari pengolahan nikel di dalam negeri, menurut pemerintah.
Pemerintah mengarahkan investasi hilirisasi nikel ke produk akhir seperti baterai kendaraan listrik, kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Minggu (1/11/2026). Menurut naskah kebijakan, 50% hingga 60% kapasitas smelter nikel yang ada masih sebatas menghasilkan produk perantara. Pemerintah mengkaji pembatasan smelter baru yang hanya memproses setengah jadi; ekspor nikel dan turunannya naik dari US$ 3,3 miliar pada 2017 menjadi US$ 33,9 miliar pada 2024.
Latest updates
Pemerintah Arahkan Hilirisasi Nikel ke Produksi Baterai Kendaraan Listrik
Pemerintah mulai mengarahkan investasi hilirisasi nikel ke tahap yang lebih maju, yaitu produksi produk akhir seperti baterai kendaraan listrik. Menteri Bahlil Lahadalia mendorong agar hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan smelter dan bahan setengah jadi. Selain baterai EV, pemerintah juga membidik produksi baja nirkarat untuk memperkuat nilai tambah nikel di dalam negeri. Pengembangan industri lanjutan ini diharapkan menciptakan rantai pasok nasional yang lebih kuat. Rincian nilai investasi dan tenggat realisasi belum disebutkan dalam laporan tersebut.