Skip to footer
Marriner S. Eccles Federal Reserve Board Building
Photo: Illustrative image — Photo: AgnosticPreachersKid, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons

business

RI Makin Haus Dolar, Awas Defisit Transaksi Berjalan Makin Lebar

Ekonom Danamon Irman Faiz memperkirakan defisit neraca berjalan Indonesia melebar ke 1,6% PDB pada 2027 dan menekan rupiah.

Updated 2 min read

Key points

  • Defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan sekitar 1,5% PDB pada 2026 dan 1,6% pada 2027, dibandingkan 0,1% pada 2025.
  • Ketegangan AS-Iran di awal tahun mendorong harga minyak naik, dan harga masih di atas US$100 per barel.
  • Kenaikan suku bunga AS dan arus modal ke negara maju berpotensi menekan nilai tukar rupiah.

Why it matters. Kebutuhan pembiayaan dari luar negeri yang lebih besar dapat memperlemah nilai tukar rupiah, menurut Irman Faiz.

Di Sabang, Aceh, pada Kamis (5/11/2026), Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan defisit neraca berjalan Indonesia sekitar 1,5% terhadap PDB pada 2026 dan melebar menjadi 1,6% pada 2027, dari 0,1% pada 2025. Ia menyampaikannya dalam media briefing Bank Indonesia. Ketegangan AS-Iran di awal tahun mendorong harga minyak naik signifikan, dan meski sempat turun, harganya masih bertahan di atas US$100 per barel sehingga biaya impor energi ikut naik.

Latest updates

RI Makin Haus Dolar, Awas Defisit Transaksi Berjalan Makin Lebar

Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia berada di sekitar 1,5% PDB Sabang, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia berada di sekitar 1,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026 dan melebar menjadi 1,6% pada 2027. Angka defisit itu jatuh makin dalam bila dibandingkan dengan defisit 0,1% yang dicapai pada 2025. "Defisit transaksi berjalan yang melebar tersebut menunjukkan Indonesia masih membutuhkan pembiayaan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) dan bisa menjadi faktor yang melemahkan nilai tukar rupiah," katanya saat media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh pada Kamis (5/11/2026). Defisit yang melebar, menurut Irman, disebabkan oleh kenaikan biaya impor energi berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan minyak dan gas. Irman Faiz menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang mengubah arah prospek ekonomi global tahun ini. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal tahun mendorong harga minyak meningkat signifikan. Meskipun sempat terkoreksi, harga minyak masih bertahan pada level tinggi. "Di tahun ini harga energi itu menjadi faktor surprise dimana ada US-Iran war di awal tahun kemudian tiba-tiba brand oil naik cukup signifikan. Sempat turun lagi tapi terakh.

Sources