Skip to footer
BP Oil Refinery Jetty, Kwinana, August 2019 1
Photo: Illustrative image — Photo: Calistemon, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

tech

Taruhan Baru Pabrik Sawit Teknologi Dry Process, dan Penerimaan Pasar

Indonesia uji teknologi SPOT rendah emisi untuk pengolahan sawit, pemerintah bidik kemitraan petani lewat koperasi.

Updated 2 min read

Key points

  • Teknologi SPOT disebut mampu memangkas emisi hingga 75 persen dibandingkan proses konvensional.
  • Teknologi ini menghasilkan Palm Mesocarp Oil (PMO) yang bernutrisi tinggi dan bebas limbah cair.
  • Kementerian Perindustrian hanya berperan di regulasi dan kebijakan, sementara koperasi dipandang sebagai penghubung petani dan industri.

Why it matters. Teknologi ini berpotensi memperkuat citra sawit Indonesia di mata negara konsumen, tetapi keberhasilannya juga bergantung pada penerimaan pasar dan kesiapan petani.

Indonesia mulai menguji teknologi pengolahan sawit rendah emisi bernama SPOT (Steamless Palm Oil Technology), yang disebut mampu memangkas emisi hingga 75 persen dibandingkan proses konvensional. Teknologi ini akan menghasilkan Palm Mesocarp Oil (PMO) yang bernutrisi tinggi dan bebas limbah cair.

Latest updates

Taruhan Baru Pabrik Sawit Teknologi Dry Process, dan Penerimaan Pasar

InfoSAWIT, JAKARTA - Di tengah tekanan global terhadap keberlanjutan, Indonesia mulai menguji teknologi pabrik sawit rendah emisi. Namun keberhasilannya InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah tekanan global terhadap keberlanjutan, Indonesia mulai menguji teknologi pabrik sawit rendah emisi. Namun keberhasilannya tak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan juga penerimaan pasar, kesiapan petani, dan kepastian ekonomi di lapangan. Di tengah berbagai tuntutan global terhadap industri sawit, Indonesia kembali mencoba membuka jalan baru. Kali ini melalui pengembangan teknologi pabrik kelapa sawit berbasis dry process , tren disebut teknologi SPOT ( Steamless Palm Oil Technology ), yang akan menghasilkan produk Palm Mesocarp Oil (PMO) yang bernutrisi tinggi dan bebas limbah cair, sebuah pendekatan yang digadang-gadang mampu memangkas emisi hingga 75 persen dibandingkan proses konvensional. Namun seperti banyak inovasi lain di sektor agribisnis, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal kecanggihan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi itu akan bertemu dengan realitas petani, kebutuhan industri, serta dinamika pasar yang selama ini menjadi penentu keberhasilan sebuah terobosan. BACA JUGA: Kebakaran Hutan Kalimantan Tengah, Rantai Pasok Sawit Global Disorot Kementerian Perindustrian tampaknya menyadari hal tersebut. Fokus yang ingin dibangun bukan sekadar mengha.

Sources