Skip to footer
Jakarta Doubledecker Tourist Bus at Sarinah Thamrin.jpg
Photo: Gunawan Kartapranata, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

business

Wamenko Dradjad Tegaskan Daya Beli Kuat di Tengah Melambatnya Konsumsi Rumah Tangga

Wamenko Dradjad menegaskan daya beli kuat meski konsumsi rumah tangga melambat di triwulan III-2026 karena faktor musiman.

Updated 1 min read

Poin utama

  • Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan tidak ada persoalan pada daya beli masyarakat.
  • Perlambatan konsumsi rumah tangga di triwulan III-2026 murni dipengaruhi faktor musiman pascaperiode libur sekolah dan keagamaan.
  • Aktivitas belanja rumah tangga tetap berada di zona ekspansi solid dengan pergeseran alokasi ke sektor transportasi dan pariwisata.

Mengapa penting. Pernyataan ini menepis kekhawatiran pelemahan daya beli luas dan menegaskan kapasitas finansial masyarakat tetap terjaga kokoh di tengah narasi perlambatan ekonomi.

Diperbarui Sumber: Economy

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyatakan daya beli masyarakat tetap kuat meskipun pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat di triwulan III-2026. Perlambatan tersebut murni disebabkan faktor musiman pascaperiode libur sekolah dan keagamaan, bukan penurunan kapasitas belanja. Aktivitas belanja domestik tetap berada di zona ekspansi solid dengan pergeseran alokasi ke sektor transportasi, komunikasi, pariwisata, dan perhotelan.

Latest updates

Wamenko Dradjad Tegaskan Daya Beli Kuat di Tengah Melambatnya Konsumsi Rumah Tangga

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyatakan bahwa daya beli masyarakat tidak bermasalah meskipun pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2026 melambat dibanding periode sebelumnya. Pemerintah menilai perlambatan tersebut disebabkan oleh faktor musiman setelah berakhirnya libur panjang sekolah dan keagamaan, bukan karena penurunan kapasitas belanja. Aktivitas belanja rumah tangga tetap berada di zona ekspansi yang solid meskipun ritmenya mengalami normalisasi. Dradjad Hari Wibowo menjelaskan bahwa kenaikan konsumsi selama liburan akan membuat pertumbuhan terlihat lebih kecil setelah periode libur selesai.

Sources